Menyapa Kembali
Ia merupakan seorang yang namanya pernah aku sematkan dibagian teratas Line ponselku, seakan Ia lah nomor satu takkan ada
yang bisa mengalahkannya sebanyak apapaun pesan yang masuk ke ponselku. Agak
lupa mengapa bisa aku menyematkan kontaknya saat itu.
Dulu, kami pernah sedekat pembuluh darah dengan permukaan kulit. Kami
pernah sedetak dalam detik yang sama, berangkulan dalam jiwa yang berbeda,
memimpikan sesuatu yang muluk dilakukan oleh para remaja yang sedang menuju
dewasa. Hingga akhirnya sampai pada
titik yang mengharsukan semuanya usai.
Bukan perkara meninggalkan atau ditinggalkan.
Keadaanya rumit dan sukar untuk dipahami seperti siklus lingkaran setan yang akan menyesekkan hati keduanya sampai akhirnya tidak mungkin lagi
untuk dipertahankan. Aku ingat, tepatnya sore hari saat matahari akan tenggelam
pada ufuknya aku memutuskan untuk pergi dan benar-benar
menjauh dari hidupnya.
Tidak ada sedikitpun penyesalan telah pergi dari dirinya, hanya saja,
aku benar-benar menarik diri bahkan
untuk sekedar tau kabarnya.
Selentingan kabar
tentang dirinya sering singgah ke telinga entah itu dari teman-temannya yang
terkadang masih menghubungiku, tapi hanya sebatas itu, tidak ku gali lebih dalam lagi tentang kabar sosok yang dulu sempat
saya perkenalkan sebagai seorang yang mengisi hati.
.....
Singkat cerira, rupanya saya berhasil.
Tak pernah lagi ku dengar kabar tentangnya, entah itu dari sosial media
karena sejak itu aku memilih untuk keluar dari kehidupannya tidak ada lagi akses
yang memungkinkan kami untuk berkomunikasi. Dia memilih untuk memblokir
semua sosial media, aku menghargai keinginanya, sebab ia
juga menghargai keputusanku untuk keluar dari hidupnya. Dan juga teman-temannya
yang sempat membuat hari-hari berantakan karena terus memberi kabar tentang dirinya padaku
(tanpa saya minta) akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukannya, mungkin
mereka lelah. Sebab mereka terus memberikan segudang informasi tentang dirinya
(yang mungkin itu adalah keinginan dia) tanpa aku respond dan tanggapi.
Semenjak itu, aku sangat nyaman dengan kesendirianku. Aku bisa haha hihi
bersama teman-temanku, tidak ada sakit hati, curiga atau jengkel yang selalu tersimpan
tak mampu untuk diungkapkan.
[Febuari 2018] Beberapa bulan lalu, aku mendapati namanya kembali masuk di ponsel pintar milikku. Kaget? Jelas. Lalu ku buka
pesannya, hanya pesan basa basi entah maksudnya apa. Lagi-lagi, enggan untuk ku gubris terlalu jauh, aku jawab seadanya dan ku tinggalkan dalam waktu lama.
Ia
kembali menghilang.
Aku,
masih dengan sikap yang sama,
Masa
lalu bukan untuk ku sapa. Masa lalu untuk ku jadikan memory saja, bukan untuk diukir kembali menjadi ingatan baru.
Pesan
itu datang lagi,
Kali
ini tidak jauh berbeda, entah mengapa saat itu mempunyai nyali dan keberanian membalas pesannya lebih lama. Lebih jauh bercerita mengenai bertahun
yang terpisah tanpa pernah saling memberi kabar. Aku bercerita mengenai rumahku hari ini, mengenai perkuliahan juga tentang mimpi ke depan.
Aku memberanikan diri untuk bertanya juga pada dirinya, apa yang terjadi setelah aku pergi. Ia menjelaskan banyak hal, tentang pacar-pacar barunya, patah hati
yang terakhir kalinya.
Ia
masih tetap hangat, tapi tanpa pernah sedikitpun menyentuh kata
berlebihan; ia menempatkan dirinya sebagai seorang lama yang kembali datang
hanya untuk sekedar membawa kabar, mengikat kembali yang dulunya pernah
longgar dengan simpul pertemanan walau dengan bumbu perpisahan.
Pesan
yang terus terbalas itu hanya terjadi sekali, beberapa hari lalu. Sudah tidak
ada lagi namanya mampir ke ponselku, tapi
semua menyisakan perasaan lega jauh di dalam diri,
bahwa
berdamai dengan masa lalu ternyata tidak seburuk itu,
Bahwa
membuka komunikasi kembali dengan dia yang dulu sempat berarti ternyata tidak
menyisakan getar apapun selain perasaan lega bahwa ia melakukan hal yang benar
dan sesuai inginnya.
Bahwa
batas antara dua orang yang pernah dicinta itu bukan jarak dan tembok,
tapi sikap saling menghargai dan menghormati.
tapi sikap saling menghargai dan menghormati.
Komentar
Posting Komentar