menjadi akrab
Beberapa luka tidak membuat seseorang menjadi lebih kuat. Mereka hanya membuat hati dan otak belajar menghadapi rasa sakit dengan cara yang berbeda.
Bukan karena perihnya telah berkurang, melainkan karena pengalaman mengajarkan bahwa tidak semua luka dapat dilepaskan dengan cara yang sama. Ada yang mengalir sebagai air mata, ada yang menetap sebagai keheningan. Dan ketika rasa yang sama datang berulang kali, hati dan isi pikir perlahan belajar menanggungnya tanpa banyak suara.
Pada awalnya, luka datang bersama air mata. Ia Menangis karena masih percaya bahwa rasa sakit itu tidak seharusnya terjadi. Masih ada harapan bahwa keadaan akan berubah, bahwa seseorang akan mengerti, bahwa suatu hari semuanya akan membaik.
Namun ketika datang berulang kali dari tempat yang sama, sesuatu perlahan berubah. Yang tersisa hanya perasaan berat yang tidak memiliki bentuk. Dada yang terasa berat tanpa alasan yang bisa dijelaskan, tenggorokan yang terasa penuh. Pikiran terus berjalan seperti biasa, tetapi hati terasa lelah karena terus memikul sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di dalam otak, amygdala yang menyimpan jejak emosi menjadi semakin peka terhadap pengalaman yang mengingatkannya pada luka lama. Sementara hippocampus terus merekam pola yang sama, membuat seseorang perlahan belajar untuk tidak terlalu berharap agar tidak kembali kecewa.
Lama-kelamaan seseorang tidak lagi bertanya, "Mengapa aku disakiti?"
Ia hanya lelah harus berulang kali mengumpulkan kembali bagian-bagian dirinya yang runtuh.
"Berapa lama lagi aku harus kuat?" ucap seseorang tersebut.
Dari luar, tidak banyak yang berubah. Ia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun pengalaman yang berulang sering kali membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati dalam menaruh harapan. Dan sering kali, itulah luka yang paling dalam. Bukan luka karena kehilangan seseorang, melainkan luka karena perlahan kehilangan keyakinan bahwa dirinya sebenarnya pantas diperlakukan dengan baik dan lembut.
Bagian yang paling menyakitkan bukan ketika seseorang membuat kita menangis, tetapi ketika suatu hari nanti menyadari bahwa tidak lagi menangis bukan karena rasa sakitnya berkurang melainkan karena rasa itu telah terlalu lama dikenal dan menjadi bagian dari keseharian.
Ada kesedihan yang selesai setelah ditangisi. Namun ada pula kesedihan yang menetap karena berasal dari satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab:
"Sejak kapan aku mulai menganggap luka yang sama sebagai bagian dari sesuatu yang layak dipertahankan?"
"Pada titik mana aku mulai menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar?"
Karena sebenarnya yang menguras hati bukan hanya rasa sakit itu sendiri, melainkan harus berulang kali membangun kembali dirinya yang runtuh sementara penyebab runtuhnya tetap ada dan berasal dari tempat yang sama. Ketika terlalu lama bertahan dalam rasa sakit, ia akan mulai terbiasa mengabaikan kebutuhannya sendiri. Terbiasa memaafkan hal yang seharusnya tidak perlu dimaafkan. Terbiasa menerima sedikit karena takut kehilangan semuanya. Padahal hati manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus bertahan. Ia juga membutuhkan tempat untuk berisitirahat.
Pada akhirnya, yang paling perlu disembuhkan bukanlah rasa sakit karena disakiti, melainkan keyakinan yang diam-diam hilang bahwa kita layak dicintai tanpa harus terluka terlebih dahulu.
Komentar
Posting Komentar