Harapan untuk sebuah Pertemuan
Setitik harapan selalu ada untuk sebuah pertemuan,
Setelah sekian lamanya tidak berjumpa karena terhalang oleh waktu dan tentunya jarak.
Jarak, jika dirasa kadang jarak itu memang amat kejam. Mampu membuat jauh siapa saja. Tak pandang bulu.
Tetapi, sepertinya kerinduan dan jarak tidak pernah bersatu bahkan keduanya tidak berteman baik mungkin.
Menurutku, kerinduan dan jarak itu merupakan sebab akibat. Jika ada jarak yang memisahkan tentunya akan menimbulkan kerinduan yang mendalam jika tidak segera dipertemukan. Bukan begitu?
Tapi, kadang pula jarak memberi sebuah makna yang luar biasa, karena dengan adanya jarak menjadikan sebuah pertemuan yang akan terjadi menjadi amat berharga. Menurutmu?
Sebenarnya, seperti apa bentukan rindu itu? Apakah seperti atom? Atau partikel? Atau mungkin satuan lain yang lebih kecil?
Rindu tidak ada bentuknya, rindu hanya dapat dirasakan karena aktivitas dari hormon dopamine di tubuh yang meningkat dan membuat perasaan terasa sakit, bahagia juga tak karuan dalam waktu yang sama.
Berapa kilo meter jarak yang harus ditempuh untuk menemuimu?
Rupanya kilo meter masih berupa angka yang dapat dihitung, masih bisa ditaklukan.
Tapi taukah kamu berapa banyak rindu yang menggebu dalam hati dan pikiran?
1 juta kerinduan? 2 milyar kerinduan? Atau bahkan mungkin lebih?
Kau tak mampu menghitung banyaknya hormon dopamine saat meningkat, bahkan aku saja tak mampu untuk menghitungnya, karena rindu tidak ada satuannya.
Hanya ada rindu, sangat rindu, atau amat sangat rindu..
bahkan aku pun sebenarnya tidak bisa membedakan perbedaan dari 3 pernyataan tersebut. Rasanya yang dirasakan adalah keinginan untuk bertemu karena rindu yang menggebu.
Berarti, rindu tidak bisa ditaklukan kecuali dengan sebuah pertemuan. Bukan begitu?
Hanya sebuah pertemuan yang mampu mengobati kerinduan. Namun setelah itu rindu bisa kembali muncul dengan perasaan yang lebih besar. Rindu juga bisa kembali muncul dengan cara lebih menggebu bahkan menyakitkan setelah perpisahan.
Untuk mereka yang baru saja dilanda patah hati karena putus cinta, tentunya akan ada jarak pada mereka untuk memulihkan perasaanya masing-masing serta menyadari bahwa mereka tidak lagi menjadi “kita” diantara mereka, secara perlahan tentunya akan terdapat sebuah kerinduan pada diri mereka. Merindukan satu sama lain. Lalu mengobatinya, mungkin mereka bisa melihat semua foto-foto saat masih bersama, atau tidak menghapus semua pesan sehingga memilih untuk mengarsipkan pesan di whatssapp untuk kemudian hari dibaca kembali sekedar mengobati kerinduan itu.
Rindu tapi tak bisa diobati dengan pertemuan, bukankah terasa lebih menyakitkan? Menurutku, ya. Lalu bagaimana menurutmu?
Komentar
Posting Komentar